Senin, 03 April 2017

Adab bertamu menurut Tatakrama Adat Sasak dan Tatakrama Orang Jepang



Adab bertamu menurut Tatakrama Adat Sasak dan Tatakrama Orang Jepang
Oleh :
Sri Aju Indrowaty
Nim. T111608005

1.   Pendahuluan
       Negara Indonesia adalah Negara dengan berbagai suku bangsa yang mempunyai berbagai adat istiadat dan berbagai ragam bahasa pula. Terdapat pula cara atau adat menerima tamu, karena menurut sebagian masyarakat Indonesia “ Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah dia memuliakan tamunya” (HR.Bukhari).
       Sejak dulupun ada berbagai peribahasa yang berkaitan dengan berbagai tatacara kehidupan, misalnya saja “Habis manis sepah dibuang” yang artinya setelah dipergunakan maka tidak diacuhkan lagi. Disamping adanya peribahasa orang Indonesia juga mengenal Kiasan, Sajak, Perumpamaan dan lain sebagainya. Ada  peribahasa yang sangat tepat sekali digunakan untuk berkunjung ke suatu daerah atau bertamu ke suatu tempat yaitu “Masuk ke dalam kandang kambing mengembik, masuk ke dalam kandang kerbau menguak” artinya menyesuaikan diri dengan tempat dan keadaan.
       Apabila kita simak ternyata budaya Jepang terdapat pula cara memuliakan tamu. Bahkan ada juga idiom yang berhubungan dengan penerimaan tamu yaitu, 一期一会(Ichi go ichi e) yang artinya One time, one meeting, apabila ada kesempatan sekali, maka ada sekali bertemu. Idiom itu ditafsirkan dengan kesempatan yang sekali untuk bertemu, janganlah disia-siakan, sehingga menurut adat Jepang tamu juga sangat dimuliakan dengan berbagai jamuan yang tidak akan terlupakan.

2.   Metode Penelitian
       Menurut Vestergaard dan Schröder (via Rani, dkk., 2004: 20), salah satu fungsi bahasa didayagunakan untuk menyampaikan ekspresi (berupa emosi, keinginan, atau perasaan) penyampai pesan (komunikator). Fungsi bahasa itu disebut fungsi ekspresif. Selain fungsi ekspresif, masih dibedakan lagi fungsi bahasa atas fungsi direktif, fungsi informasional, fungsi metalingual, fungsi interaksional, fungsi kontekstual, dan fungsi puitik. Fungsi direktif berorientasi pada penerima pesan. Dalam hal ini, bahasa dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain, baik emosinya, perasaannya, maupun tingkah lakunya. Selain itu, bahasa juga dapat digunakan untuk memberikan keterangan, mengundang, memerintah, memesan, mengingatkan, mengancam, dan sebagainya. Fungsi informasional bahasa berfokus pada makna, yakni untuk menginformasikan sesuatu. Fungsi metalingual berfokus pada kode, yakni bahasa digunakan untuk menyatakan sesuatu tentang bahasa. Fungsi interaksional bahasa berfokus pada saluran, yakni bahasa digunakan untuk mengungkapkan, mempertahankan, dan mengakhiri suatu kontak komunikasi antara penyampai pesan dan penerima pesan. Fungsi kontekstual bahasa berpedoman bahwa suatu ujaran harus dipahami dengan mempertimbangkan konteksnya.
       Dikemukakan oleh Malinowski (via Koentjaraningrat, 1980) bahwa fungsi bahasa sebagai salah satu anasir kebudayaan adalah kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan sekunder warga dalam suatu masyarakat. Dikemukakannya pula, bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manuisa yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya (Koentjaraningrat, 1980:171).

3.   Pembahasan

3.1               Adab bertamu Adat Sasak
       Kapan saja dan siapa saja dapat datang ke rumah seseorang untuk bertamu, baik dengan berjanji terlebih dahulu atau  tanpa membuat janji terlebih dahulu. Dalam bahasa Sasak bertamu disebut betemue. Bertamu yaitu mengunjungi rumah orang lain baik itu keluarga, sahabat kerabat atau siapa saja. Apabila seseorang pergi mengujungi rumah orang lain, dalam tatakrama adat Sasak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

A.    Waktu Bertamu

        Perlu diketahui bahwa untuk bertamu, tidak ada ketentuan mengenai adanya waktu-waktu tertentu. Konsep orang  Sasak tentang waktu lebih longgar, sama sekali tidak terikat  oleh alat penjaga waktu yang selalu dililit di tangan yang bernama arloji. Konsep waktu orang Sasak lebih berkaitan dengan waktu alami yang berhubungan dengan waktu untuk salat. Sehingga dalam pergaulan dan membuat jadwal-jadwal, seringkali ditentukan waktu ba’da ashar, ba’da magrib dan sebagainya.Waktu bertamu yang juga dianjurkan adalah pada malam hari setelah salat isya (jam 20.00) sampai sekitar jam 22.00, atau bahkan bisa lebih lama dari itu.Waktu antara saat shalat Magrib dan lsya’ bagi kebanyakan orang Sasak, dipergunakan untuk beribadah (shalat) dan atau untuk makan malam. Karena itu sebaiknya tidak dipilih saat-saat itu untuk berkunjung. Tamu yang akan berkunjung harus benar-benar mengetahui waktu yang luang tuan rumah yang akan dikunjungi.

B.    Tata Cara Bertamu

       Tamu yang datang hendaklah terlebih dahulu mengucap salam agama “ Assalmu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, barulah mengetuk pintu. Apabila tuan rumah sudah membuka pintu dan mempersilakan masuk, maka tamu sedikit membungkuk memberi hormat lalu masuk. Biasanya tuan rumah menyilakan tamunya duduk, apakah dengan bersila atau duduk di atas korsi. Pada masa dahulu amat jarang dijumpai korsi tempat duduk. Biasanya digunakan lante *) sebagai alas tempat duduk bersila.
       Di rumah orang Sasak, acapkali ditemukan Berugaq* ). Ukuran lumrahnya 2,5 x 2 meter yang biasa juga disebut sekepat ( berugak bertiang empat ). Selain Berugaq, ada juga bale jajar ( karena konstruksi tiangnya berjajar) atau disebut sekenem yang jumlah tiangnya enam buah. Fungsi sekenem sama dengan berugaq tetapi ukurannya lebih luas, sekitar 5×3 meter. Di sinilah lazimnya orang Sasak menerima tamu yang diakrabinya. Karena berbentuk bale-bale sehingga di kedua jenis bangunan (berugaq atau bale jajar/sekenem)  tidak disediakan kursi, akan tetapi  caranya dengan duduk bersila.
       Perlu juga diperhatikan bahwa jika memasuki rumah untuk bertamu, secara umum berlaku tradisi melepas alas kaki, sepatu ataupun sandal. Kecuali jika tuan rumah terus menerus melarang melepas alas kaki, jika tamu  mau, dapat juga tidak melepasnya.
C.    Menerima Suguhan

       Tidak jarang, kopi sebagai suguhan tunggal tuan rumah terhadap tamunya. Dalam hal kopi sebagai suguhan tunggal, tuan rumah akan menyampaikan ungkapan basa-basi dengan mengatakan: kopinya wanen *), maksudnya kopi itu dihadirkan sendiri tanpa ada penganan lain yang menyertainya. Tetapi suguhan minum bisa juga ditemani kue dari jenis apa saja, tidak ada yang standar. Orang Sasak suka dengan suguhan kopi. Banyak diantaranya memiliki cita rasa yang tinggi sehingga terampil membedakan secangkir kopi yang diseduh dengan air yang baru mendidih dengan panas yang cukup, air panas dimasak dengan kayu bakar. Begitu pula, bisa di bedakan antara kopi yang dimasak pakai kekete* ).

D.   Hal Tabu Ketika Bertamu

1.   Mengambil atau Memegang dengan Tangan Kiri
Orang Sasak, pada dasarnya tidak menerima budaya tangan kiri (left-handed). Anak-anak yang terlahir kidal, dipaksa untuk mengubah bawaan alaminya untuk mengikuti “Budaya tangan kanan” dengan cara yang kadang-kadang dipaksakan.
Bagi masyarakat Sasak, ada perbedaan yang tegas antara fungsi tangan kanan dan tangan kiri dalam penggunaannya. Orang Sasak menganggap bahwa tangan kanan adalah “Tangan baik” sedangkan tangan kiri adalah “Tangan kotor” yang wilayah penggunaannya terbatas,  paling untuk urusan membersihkan sesuatu yang dianggap kotor. Ini budaya Sasak dan tidak terlalu dipermasalahkan.
Tangan kiri memiliki image yang lebih buruk sehingga tidak digunakan untuk memberi dan menerima sesuatu bahkan untuk menerima uang sekalipun. Tangan kiri tidak dipakai menunjuk sesuatu, atau  me­ngambil makanan. Khusus bagi seseorang yang kidal tentu saja tidak akan dipandang tidak sopan jika ia menulis, mengoperasikan alat tertentu, atau kegiatan lainnya, sepanjang itu dilakukan untuk dirinya sendiri tanpa ada hubungan komunikasi dengan orang lain. Khusus dalam hal menunjuk, cara yang dianggap paling sopan adalah menunjuk dengan jempol jari tangan kanan. Perlu digaris bawahi juga bahwa meng­gunakan kaki untuk menunjuk sudah tentu sangat melanggar aturan tatakrama adat Sasak.
2.   Hindari kata Kamu

       Kosa kata yang paling dihindari penggunaannya dalam percakapan dengan orang Sasak adalah kata kamu “ ente” untuk laki-laki dan “kemu” untuk wanita  Meskipun percakapan tersebut menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak mengenal strata dalam kosa katanya, tetapi orang Sasak terlanjur memandang kata kamu sebagai kata yang kasar dan dipakai untuk menyatakan kemarahan atau merendahkan lawan bicara. Karena itu, sangat dihindari penggunaannya dan digantikan dengan kata situ, Anda  atau “side” (bahasa Sasak).
       Untuk menyatakan orang kedua tunggal (kamu) kepada orang yang dihormati karena status sosialnya maupun karena usianya yang lebih tua, digunakan kata pelinggih atau pelungguh. Jika lawan bicara berstatus tertinggi yang bergelar Datu (laki-laki)  atau Dinde (perempuan) atau Raden Nune (laki-laki belum  menikah), digunakan kata Pelungguh Dekaji. Tetapi untuk yang terakhir ini sangat jarang digunakan, lebih-lebih pada zaman sekarang yang sudah banyak mengalami pergeseran
       Kata side digunakan dalam percakapan antara dua orang yang setara dari segi usia atau status sosial. Jadi, mesti berhati-hati dengan kata yang satu ini, kalau ada orang Sasak dikatakan kamu, ente, atau kemu  dan mereka diam, perlu bijak dalam menafsirkan diamnya itu. Artinya, sebenarnya mereka merasa tidak nyaman, tetapi sekaligus mencoba belajar menerima perkataan itu.
3. Ketika Makan Bersama
Orang Sasak memiliki tradisi makan bersama dengan cara duduk. Tradisi ini memiliki Description: adab bertamu
aturan kecil yang mesti diperhatikan. Adalah bijak bagi tamu jika mengenal tradisi keseharian tuan rumah. Seseorang akan merasa lebih dihargai jika menyaksikan bahwa tamunya bersedia mengikuti tradisi yang dianut tuan rumah. Itu bisa membuat tuan rumah menjadi lebih cepat akrab.
Pertama, jangan mulai mengambil makanan sebelum tuan rumah atau salah seorang yang akan mewakil tuan rumah mempersilahkan. Tuan rumah biasanya akan mempersilakan dengan mengatakan: dawek. ngaturang, atau silaq.atau silaq ngiring mulei.
Kedua, ambil dan suaplah makanan hanya dengan tangan kanan. Tangan kiri jangan pernah dipakai. Selain itu, orang Sasak makan dengan lauk dan daging dari wadah yang sama, dan tidak selalu disediakan sendok. Memang terasa lebih akrab, kendatipun sudah mulai dipertanyakan dari segi kesehatan dan kebersihan, namun inilah yang sudah teradat di Gumi Sasak.
Ketiga, selama acara makan bersama berlangsung, tidak boleh membicarakan hal-hal yang menjijikkan, membuang ingus, mengunyah makanan sampai mulut berbunyi mecak *)  bahkan tidak umum berbicara berlebihan.
Keempat, jika seseorang telah selesai makan, tidak berarti boleh langsung cuci tangan. Tunggulah sampai orang lain sudah selesai makan dan dipastikan ada seseorang yang akan menawarkan untuk mengakhiri acara makan bersama tersebut. Jika anda sudah terlanjur selesai dan belum juga ada yang mempersilahkan menutup acara makan bersama tersebut, dibolehkan mengambil apa saja hidangan yang masih tersedia, biasanya kacang-kacangan yang gurih.
4. Bersiul
     Bagi orang Sasak, ekspresi kesenangan dengan cara bersiul mesti dilakukan pada tempat dan waktu yang pantas. Bersiul di malam hari sangat dilarang. Begitu pula, bersiul di wilayah-wilayah yang bersifat pribadi seperti di dalam rumah. Demikian juga di pekarangan rumah tidak dibolehkan.
Tempat yang dipandang pantas untuk bersiul adalah di tempat umum, seperti di jalan raya, di kebun, di sawah, di ladang, dan tempat-tempat sejenis. Mitos yang berkembang di kalangan suku Sasak dalam hal bersiul yaitu bisa mengundang datangnya ular. Entah apa kaitannya, tetapi diduga itu hanya jalan pikiran untuk menakut-nakuti sehingga seseorang tidak bersiul di tempat-tempat yang merupakan wilayah pribadi.
5. Mengumpat
       Dalam konteks pergaulan dan keakraban yang dalam, terutama di kalangan orang Sasak kebanyakan, dua orang Sasak yang saling bertemu, akan saling mengumpat dengan kata-kata yang kotor lagi kasar, tetapi kadang banyak di antara mereka mereka mampu membedakan antara umpatan untuk keakraban dengan umpatan untuk menghina atau karena marah dan kesal. Di tengah-tengah bermaki-makian dan berumpat ria itu, satu hal yang tidak boleh dilakukan, yaitu seorang laki-laki tidak boleh mengumpat kepada seorang wanita dengan menyebut kemaluan wanitanya. Itu bisa tergolong pelanggaran adat. Tetapi jika saling  umpat di antara sesama wanitanya meskipun dengan menyebut kemaluan wanita, tidak termasuk pelanggaran.
6. Pegang Kepala, Telinga dan Pundak
       Bagi orang Sasak, ada tiga bagian tubuh yang tidak boleh dipegang atas alasan yang berbeda yaitu kepala, telinga dan pundak. Jangan coba-coba memegang kepala laki- ­laki di luar keperluan untuk bercukur atau mungkin mencabut ubannya. Mereka sangat menjaga kepalanya agar tidak dipegang sembarang orang, karena diartikan sebagai tindakan merendahkan atau terkalahkan. Lain lagi maknanya memegang telinga. Mereka tak menyukainya karena ini salah satu cara untuk menantang berkelahi. Memegang pundak juga tidak lazim. Seseorang yang telah dipegang pundaknya merupakan pertanda ia telah dikuasai (under controlled) oleh pemegangnya. Kadang orang Sasak beranggapan bahwa dipegang pundaknya berarti direndahkan.
7. Berludah
       Selain mengumpat seperti disebutkan di muka, dalam mengekspresikan perasaan marahnya, orang Sasak juga akan memperlihatkan dengan cara berludah. Tetapi cara berludah di sini bukan dilakukan dengan cara yang lazim sebagaimana berludah alami, melainkan dengan membuat tarikan kuat di rongga mulut lalu dikeluarkan dengan tekanan dan bunyi yang kuat pula bekoeek Biasanya bekoeek*)  dilakukan dengan cara yang demonstratif, langsung di depan seseorang yang ingin dijadikan target kemarahannya. Ada kalanya orang yang ditargetkan tidak di tempat maka dapat juga diperlihatkan kepada lawan bicara yang ada, akan tetapi tetap saja untuk memperlihatkan kemarahannya kepada orang ketiga yang dibencinya.
Berludah di dalam rumah juga sangat dihindari oleh orang Sasak. Lebih-lebih jika ada orang lain teman duduk, maka jangan berludah secara langsung di depannya, melainkan dengan cara permisi terlebih dahulu dan keluar sebentar untuk keperluan berludah.
3.2               Adab  bertamu Orang Jepang
       Kalau berada di jepang harus mengetahui kebiasaan orang jepang, supaya tidak dianggap aneh. Begitupun, bila bertamu ke rumah mereka dan kebetulan menginap, harus mengetahui  kebiasaan-kebiasaan mereka.

Ada beberapa point kebiasaan orang jepang sehari-hari :

A. Makan pakai sumpit


       Kebiasaan orang jepang kalau makan pakai sumpit. Kecuali kalau makan sup. Itu pun kadang mereka malas pakai sendok dan mengapit isi sup pakai sumpit. Sedangkan kuahnya dihirup sama mangkoknya. Kelihatan aneh, tapi begitulah mereka. Orang Jepang merasa aneh kalau melihat kita makan nasi pakai sendok.

B. Pakai kaos kaki


       Orang jepang selalu pakai kaos kaki. Kalau mau masuk rumah, mereka akan melepaskan sepatunya sedangkan kaos kaki tetap terpakai, nanti di depan pintu tersedia sendal untuk berganti ketika mau masuk rumah. Sendal itu wajib dipakai, dan jangan lepas kaos kakimu.

Ketika hendak ke toilet, ada sendal toilet khusus di depan pintu toilet. Ganti sendal rumah dengan sendal toilet ketika hendak buang air besar/kecil. Biasanya sendal rumah hanya akan dilepas ketika masuk kamar.

Jangan sesekali memakai sepatu di dalam rumah kalau tak mau dianggap aneh oleh mereka.

C. Pintu geser dan tempat tidur


       Rumah orang jepang kebanyakan memakai pintu geser, kecuali pintu depan. Karena rumah orang jepang kebanyakan minimalis, penggunaan pintu geser bisa menghemat ruang. Juga jangan kaget kalau tidur di rumah mereka tak ada ranjang atau dipan. Mereka tidur pakai futon atau kasur yang bila telah dipakai untuk tidur akan dilipat kembali kemudian disimpan di lemari.

Ruangan yang telah kosong tersebut akan dipasang meja kecil untuk minum teh dan sarapan. Usahakan jangan tidur kesiangan nanti sarapan dan teh jepang yang telah dipersiapkan tersebut akan dingin, jadi tak enak lagi disantap.

D. Biasakan salam


       Orang jepang akan senang kalo bertemu ngucapin salam, seperti ‘Ohayou gozaimasu’, ‘Konnichiwa’ dan ‘konbanwa’. Ketika makan bersama mereka, sebelum bersantap ucapkan ‘itadakimasu’ dan setelah selesai makan ucapkan ‘gochiso sama deshita’, untuk menghargai hasil masakan mereka. Dan jangan segan-segan mengucapkan ‘Arigatou Gozaimasu’ sebagai ucapan terima kasih.

E. Cara duduk


       Orang jepang duduk dengan cara kakinya dilipat belakang, seperti posisi duduk attahiyat awal dalam sholat. Jangan duduk secara sembarangan seperti kaki diselongsorkan atau kaki ditopang didagu, tidak sopan katanya, apalagi tidak pakai kaos kaki, nanti dipikiran mereka kita orang yang jorok.

Kalau tidak biasa cara duduk seperti mereka, bisa juga dengan cara duduk bersila, orang jepang banyak juga yang tak tahan duduk seperti itu apalagi kaum lelaki, mereka yang tak tahan memilih duduk bersila.

F. Jangan bercanda berlebihan


       kalau berkunjung kerumah teman tidak afdol kalau tidak canda-candaan. Begitupun berkunjung ke rumah teman orang jepang, tak seru kalau tidak bercanda. Kebiasaan orang Jepang kalau memukul kepala teman itu candaan biasa ‘plak’, orang yang dipukul tertawa tanda senang.

Kebiasaan orang Indonesia kalau dipukul kepala begitu pasti akan marah. Solusinya kita harus ngomong adat dan budaya Indonesia yang tak boleh dipukul kepalanya.

4.   Simpulan

       Dari tatacara menerima tamu dan cara bertamu baik dari suku Sasak di Lombok dan Jepang menunjukkan bahwa kita harus mengenal adat istiadat orang yang akan kita datangi. Beberapa point diatas pernah tidak saya lakukan ketika itu awal-awal saya ke jepang lalu diajak main kerumah teman. Sehingga dari keluarga Jepang yang mengundang saya melihat dengan terheran-heran. Sehingga supaya jangan terulang lagi kejadian salah dalam penafsiran budaya atau pemahaman yang baik akan budaya lain atau Cross Culture Understanding maka mencari dari  buku-buku dan berbagai referensi tentang kebiasaan mereka. Kalau kita  menghormati mereka baik dari berbagai suku yang ada di Indonesia maupun dari Negara lain maka tidak akan terjadi kesalahan bertindak atau bersikap saat berinteraksi dengan budaya lain khususnya saat bertamu.

Referensi
Koentjaraningrat (1980). Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta : UI Press
Sudirman dkk (2006). Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V : Lombok

Usman, AR (200). Ethnis Cina Perantauan di Aceh. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia



UTS BANDINGAN CERITA RAKYAT JAKA TARUB DAN CERITA RAKYAT HAGOROMO



UTS
BANDINGAN CERITA RAKYAT JAKA TARUB DAN CERITA RAKYAT HAGOROMO
Oleh : Sri Aju Indrowaty
Nim. T111608005

BAB 1 . Pendahuluan
       Sejak manusia itu ada, sampai tersebar di berbagai wilayah yang sekarang ini disebut Negara. Terdapat berbagai macam ras bangsa yang pasti juga menimbulkan perbedaan pemikiran dalam berbagai hal tentang kehidupan dan kebudayaannya.
       Menarik sekali apabila kita tanpa sengaja membaca cerita rakyat yang berasal dari Negara lain yang ternyata mempunyai kesamaan dengan cerita rakyat negeri sendiri. Berikut ini cerita rakyat dari Indonesia  “ Jaka Tarub” yang mempunyai berbagai kesamaan dengan cerita rakyat dari Negara Jepang yaitu “Hagoromo”.
       Terlepas dari unsur pengaruh mempengaruhi dari budaya yang satu ke budaya yang lain dan  adanya berbagai persamaan dan perbedaan, maka berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis membandingkan cerita rakyat Jaka Tarub dan cerita rakyat Jepang Hagoromo. Sehingga dapat dirumuskan yang diteliti adalah seperti yang di bawah ini.
1.2                Rumusan Masalah
1.   Bagaimanakah persamaan antara cerita rakyat Jaka Tarub dan cerita rakyat Hagoromo ?
2.   Bagaimanakah perbedaan antara cerita rakyat Jaka Tarub dan  cerita rakyat Hagoromo?

1.3                Tujuan Penelitian
1     Mendeskripsikan persamaan antara cerita rakyat Jaka Tarub dan cerita rakyat Hagoromo ?
2     Mendeskripsikan perbedaan antara cerita rakyat Jaka Tarub dan  cerita rakyat Hagoromo?

1.4                Manfaat Penelitian

       Penelitian ini mempunyai dua manfaat yaitu secara teoritis, yaitu penelitian ini diharapkan untuk memperoleh pengetahuan tentang cerita rakyat dari Negara sendiri ternyata mempunyai berbagai kesamaan dengan dengan Negara lain, yaitu dalam hal ini adalah Negara Jepang. Dari segi praktis, penelitian ini diharapkan dapat mendorong minat para peneliti agar tergerak meneliti berbagai persamaan budaya antara budaya yang satu dengan budaya yang lain.
BAB 2. Kajian Pustaka
2.1                Konsep Historis Komparatif
       Mattew Arnold menggunakan istilah ini pertama kali dalam bahasa Inggris ketika menerjemahkan  istilah J.J Ampere  untuk istilah Histoire Comparative sedang ilmuwan dari Perancis  A.F. Villeman yang menyebutnya Literature Compare (Wellek an Werren, 1993:47) tanggapan tentang Komparatif Bandingan lebih sering melahirkan tentang pendapat siapa mempengaruhi siapa, atau dari segi ilmu siapa yang mencuri karya siapa (Hutomo, 1993:111).
       Kajian cerita rakyat dalam hal ini digolongkan sebagai sastra bandingan dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok. Hotomo (1993:19) membagi kajian dalam praktek sastra bandingan di Indonesia menjadi 3 kelompok. Pertama, sastra bandingan dalam kajian filologi, kedua, sastra bandingan dalam hubungannya dengan sastra lisan dan yang ketiga, sastra bandingan tulis baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang masih bernama bahasa Melayu, maupun yang ditulis dalam bahasa Indonesia (setelah sumpah pemuda, 1928)
2.2.      Konsep Struktur
       Dalam riset mini ini, peneliti menggunakan teori strukturalisme, yaitu teori yang terpusat pada struktur sebuah karya baik sastra tulis maupun lisan. Semi (1988:34) membagi struktur fiksi menjadi dua bagian yaitu: 1. Struktur luar/ekstrinsik dan 2. Yaitu struktur dalam yaitu intrinsik. Contoh struktur luar yaitu faktor sosial ekonomi dan kebudayaan. Sedang struktur dalam seperti tema, penokohan, alur/plot, pusat pengisahan, latar dan gaya bahasa.
BAB 3. Metode Penelitian
       Metode penelitian dalam riset mini ini menggunakan metode analisis deskriptif komparatif. Metode deskripsi dilakukan dengan cara mendeskripsikan struktur cerita rakyat Jaka Tarub dan Hagoromo. Sedang metode Komparasi adalah dengan membandingkan kedua cerita rakyat tersebut, hasil perbandingan itu berupa persamaan dan perbedaan struktur. Kemudian dari kedua struktur tersebut diidentifikasi.rita
       Mengingat obyek penelitian ini berupa perbandingan cerita rakyat, maka metode yang dipakai adalah metode kepustakaan. Penelitian kepustakaan digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber kepustakaan karena terdapat berbagai versi cerita baik dari cerita rakyat Jaka Tarub, maupun dari cerita rakyat Hagoromo.
BAB 4. Pembahasan
4.1 Sinopsis JAKA TARUB
       Disuatu desa, hiduplah seorang perempuan yang biasa dipanggil Mbok Randa,dia mempunyai anak angkat bernama Jaka Tarub yang telah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan sangat senang berburu. Suatu hari ketika dia berburu seperti biasanya, dia mendengar suara wanita yang kurang jelas karena ditelan dedauanan, karena penasaran Jaka Tarub akhirnya menuju kesumber suara secara mengendap-endap.
       Jaka Tarub melihat 7 orang gadis cantik yang sedang mandi di telaga, hampir bersamaan dengan itu,dia juga melihat beberapa lembar selendang yang tergeletak dipinggir telaga, ada bisikan dari dalam diri Jaka Tarub untuk mengambilnya,dan secara mengendap-endap dia mengambil salah satunya. Ketika para gadis yang ternyata bidadari itu hendak kembali ke khayangan, salah satu dari mereka anic karena tidak menemukan selendangnya, tapi keenam bidadari lain tidak dapat berbuat apa-apa. Melihat hal tersebut Jaka Tarub mendekati sang bidadari yang tertinggal bernama Dewi Nawang Wulan itu, Dewi Nawang Wulan terpaksa harus menceritakan semuanya,Dewi Nawang wulan tidak punya pilihan lain,akhirnya dia ikut ke rumah Jaka Tarub. Hari berganti hari, mereka menikah dan mempunyai anak.
       Bagaimanapun Dewi Nawang Wulan adalah seorang bidadari sehingga dia mempunyai kelebihan, salah satunya adalah dapat membuat sebakul nasi hanya dari satu biji padi, asalkan tidak ada yang mengetahui hal itu, itulah sebabnya Dewi Nawang Wulan melarang suaminya untuk membuka tanakan nasinya, namun Jaka Tarub tidak sanggup menahan rasa penasarannya, dia membuka tanakan nasi itu dan sangat terkejut karena hanya ada satu biji padi di dalamnya.
       Jaka Tarub menanyakan perihal itu ke isterinya, ketika itu pula Dewi Nawang Wulan kehilangan kesaktian. Karena telah sepenuhnya menjadi manusia biasa, Dewi Nawang Wulan pun harus bersusah payah untuk membuat kebutuhan sehari-hari,harus bersusah-susah menumbuk padi, dan mengambil padi dilumbung. Semakin lama, padi dilumbung semakin berkurang. Sampai suatu hari,ketika Dewi Nawang Wulan ingin mengambil padi, dia menemukan selendangnya terselip diantara butir-butir padi. Dewi Nawang Wulan merasa sedih sekaligus gembira,dia senang karena mengetahui dia akan segera berkumpul bersama teman-temannya, dia sedih karena harus berpisah dengan keluarganya, tapi tak ada pilihan lain,dia harus meninggalkan Jaka Tarub yang sedari tadi ternyata melihat ia telah berubah menjadi bidadari lagi. Dewi Nawang Wulan hanya berpesan agar suaminya membuat sebuah dangau di dekat pondoknya sesaat sebelum kembali ke khayangan.

4.2 Sinopsis  HAGOROMO
      Pada zaman dahulu, ada seorang petani yang bernama Inukai. Dinamakan demikian karena pemuda itu memelihara Anjing dan dimana-mana selalu ditemani Anjing. Suatu hari Inukai pergi ke ladang, di dekat ladang terdapat danau. Pada hari itu terdapat hal yang luar biasa. Sesuatu yang indah dan berkibar ditiup angin. Ternyata sesuatu yang berkibar itu adalah baju milik Bidadari yang bernama Tanabata.
       Ketika Tanabata sedang asyik mandi di danau itu, Inukai segera mengambil baju bidadari yang indah itu. Segera setelah mandi di danau, betapa terkejutnya Tanabata karena pakaiannya sudah tidak ada. Bertanyalah Tanabata kepada Inukai yang berada dekat danau tentang pakaiannya yang bernama Hagoromo. Inukai menjawab bahwa ia akan memberikan pakaian Tanabata bila dia memenuhi permintaannya yaitu menjadi isterinya. Tanabata menyanggupi asalkan memang benar bajunya dikembalikan.
       Akhirnya merekapun menjadi sepasang suami isteri.Apabila Tanabata bertanya tentang pakaiannya selalu suaminya mengatakan nanti dulu,……nanti dulu………..Setelah berbulan-bulan kemudian lahirlah seorang anak laki-laki.  Suatu hari Tanabata pergi ke kota. Inukai yang bersama anaknya sendirian memberitahukan tentang rahasia tempat penyimpanan baju ibunya yaitu di tabung bambu. Barulah sang anak mengetahui bahwa ibunya adalah seorang bidadari.
       Keesokan harinya ketika Inukai pergi ke ladang seperti biasa, ditemani anjingnya. Anaknya tidak tahan menyimpan rahasia memberitahukan kepada ibunya tentang pakaiannya. Setelah memberi sisir kepada anaknya yang terbuat dari emas, dan cermin yang terbuat dari perak terbanglah Tanabata kembali ke kayangan. Sekembalinya dari ladang Inukai menjumpai anaknya menangis sambil menunjuk ke langit dan berteriak “Ibu …. Ibu ….” Tahulah Inukai sekarang bahwa istrinya kembali ke kahyangan. Sejak itu, Inukai tidak pernah ke ladang lagi dan kerjanya hanya melamun sambil menatap langit.
        Pada suatu hari, datanglah seorang laki-laki yang bertanya mengapa Inukai bersedih hati. Segera Inukai mengungkapkan keinginanya untu bisa pergi ke kahyangan. Paman itu menjawab bahwa keinginan itu bisa terwujud apabila iniukai membuat 1000 pasang sandal jerami dan dengan sandal itu akan bisa naik ke kahyangan dengan memanjat pohon semangka.
        Seketika itu juga Inukai membuat sandal jerami dan setiap kali meyelesaikan sepasang, pasti akan memandang langit. Demikian berhari-hari kemudian kerjanya hanya membuat sandal jerami, tanpa memperdulikan siang dan malam. Ketika sampai pada sandal yang ke-999, habislah kesabarannya. Saat itu tumbuhlah semangka yang semakin lama semakin besar tanpa ragu-ragu lagi Inukai segera memanjat pohon itu dengan diiringi anjingnya.
        Setelah 7 Hari 7 malam memanjat, sampailah ia pada pucuk pohon semangka padahal kahyangan masih beberapa jengkal lagi. Disuruhlah anjingnya untuk memanjat terlebih dahulu. Dengan memegang ekor anjingnya, sampailah Inukai di halaman kahyangan yang luas. Disana terdapat banyak bidadari, sehingga Inukai menjadi kebingungan. Maka dipanggilah Tanabata. Tepat saat itu Tanabata tepat berdiri di dekat tiang, untunglah Inukai segera menemukannya.
        Tanabata terkejut sekali dan bertanya dengan cara yang bagaimana suaminya bisa pergi ke kahyangan. Inukai segera bercerita apabila ia lapar cukup dengan mengambil semangka yang ada di dekatnya. Tanabata berkeinginan untuk memakan semangka itu juga tetapi apa yang terjadi setelah semangka itu diiris memancarlah air yang tiada henti-hentinya dari dalam semangka. Maka terbentuklah sungai yang sangat luas yang memisahan keduanya. Akhirnya yang pria menjadi bintang Altair dan istrinya menjadi  bintang Vega. Mereka saling terpisah dan saling menangisi.
4.3 Persamaan antara cerita rakyat Jaka Tarub dan Hagoromo
       Dalam cerita Hagoromo diawali dengan keinginan Inukai untuk menyembunyikan baju seorang perempuan, yang tanpa sengaja dilihatnya sedang mandi di sungai. Ternyata perempuan itu bidadari yang berasal dari langit. Pada Jaka Tarub yang tanpa sengaja mendengar dendang suara gadis ditengah hutan dan gadis itu sedang mandi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Jaka Tarub terpesona oleh kecantikan wanita. Jaka Tarub beringsut mendekati pakaian mereka dan mengambil salah satunya. Kedua cerita baik cerita Jaka Tarub maupun Hagoromo diwarnai dengan jatuh cintanya seorang pemuda pada seorang gadis yang baru pertama kali dilihatnya, yang ternyata adalah bidadari. Pada kedua cerita juga adanya janji yang telah diucapkan tetapi tidak ditepati. Pada Jaka Tarub ketika Nawangwulan mencuci baju di sungai dan melarang suaminya untuk pergi ke dapur. Tetapi Jaka Tarub melanggar pesan istrinya. Dan di Hagoromo Inukai berjanji untuk mengembalikan baju Tanabata asalkan permintaannya dipenuhi, tetapi Inukai ingkar janji.
4.4 Perbedaan antara cerita rakyat Jaka Tarub dan Hagoromo
        Terdapat perbedaan alur cerita pada Jaka Tarub setelah Nawangwulan kembali ke kahyangan cerita berakhir sedang pada Hagoromo Inukai menyusul ke kahyangan dengan membuat sandal jerami. Perbedaan yang lain pada Jaka Tarub tokoh pendukungnya adalah Bupati Tuban, Rasawulan, Syekh Maulana, Nyi Randa Tarub, serta anak perempuan dari Jaka Tarub dari Nawanwulan bernama Nawangsih. Sedang pada cerita Hagoromo kedua tokoh utama dikaruniai anak laki-laki dan juga adanya seorang kakek yang member petunjuk untuk bisa pergi ke kahyangan. Perbedaan yang lain adalah cerita rakyat Jaka Tarub terjadi di Indonesia, khususnya daerah Jawa. Sedangkan Hagoromo terjadi di Jepang. Hal ini diperkuat pada cerita Hagoromo ketika hendak menyusul ke kahyangan Inukai disuruh membuat sandal jerami sehingga dapat dikatakan bahwa lingkungan tempat kejadiannya berbeda. Tentang gaya bahasa juga terdapat perbedaan. Pada cerita Jaka Tarub gaya bahasa yang dipakai bersifat komunikatif dan lugas, karena ditujukan untuk dibaca oleh seluruh tingkatan usia. Sedang gaya bahasa pada cerita Hagoromo lebih didominasi dengan bahasa perulangan bahasa Jepang seperti Hira-hira, oya-oya dan banyak memakai bahasa puisi.
BAB 5. Simpulan
       Dari hasil perbandingan antara cerita rakyat Jaka Tarub dan cerita rakyat Hagoromo yang berasal dari Jepang, terdapat banyak sekali persamaan persamaannya meski juga terdapat berbedaannya. Adapun persamaan dan perbedaannya adalah,
 Persamaannya :
1.   Seorang pemuda yang mengambil baju terbang milik bidadari yang kemudian jatuh cinta dan mengawininya.
2.   Adanya pelaku yang bukan orang biasa (bidadari)
3.   Janji yang telah  diucapkan ternyata diingkari.
Perbedaannya :
1.   Cerita Jaka Tarub di Indonesia, sedang cerita Hagoromo di Jepang
2.   Hal yang terjadi setelah bidadari memperoleh kembali bajunya
3.   Adanya latar belakang yang berbeda, karena tempat kejadian yang berbeda pula
     

Daftar Pustaka
Abdul Rozak Zaidan dkk. (1995). Seminar Kesusastraan Bandingan. Kualalumpur : Balai Seminar Bahasa dan Pustaka
Hutomo, Suripan Sadi (1993). Merambah Matahari Pengantar Sastra Bandingan. Surabaya : Gaya Masa  
----------Jaka Tarub. Seri Cerita Rakyat : Citra Budaya Bandung
----------------(1975). Nihon Mukashi Banashi Shuu. Rikio Tsubota.Japan.
----------------(1996). Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung : Angkasa  
----------------Tanoshii Zansho. Tokyo Shuppan Kabushiki Kaisha.
----------------Tenjo no Yomesan (1963). J.Tsubota& Okawa : Japan
Wellek, Rene dan Austin Warren (1993). Teori Kesusastraan. Melalui Budianta Penerjemah. Jakarta : Gramedia.